Dapat menjadi 2 persepsi atau gambaran tentang bagaimana yang dimaksud dengan area parkir untuk kendaraan pribadi itu. Namun, pada foto di bawah ini setidaknya mewakili banyaknya ruas jalan raya yang dijadikan lahan parkir liar dari sebuah atau juga banyak bangunan dengan alasan parkir sudah kepenuhan. Biasanya bangunan – bangunan seperti ini tiada lain kampus, rumah sakit, sekolah, perkantoran dan masih banyak lagi. Pokoknya yang diminati banyak warga masyarakat sehingga amat sangat diresahkan bagi pengguna kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya tersebut.
Memang sih di kebanyakan negara banyak yang terparkir paralel di tiap lajur kanan bagi yang berlaju di sebelah kanan dan juga sebaliknya, namun tidak diimbangi oleh pengguna kendaraan bermotor. Di luar negeri sering aku buktikan bahwa mayoritas para warganya berjalan kaki dengan kata lain mengandalkan sarana pedestrian. Namun, pada foto di samping ini tampak sekali ruas jalan raya di Jl. Gunung Sahari yang memiliki 4 lajur untuk tiap jalur (arahnya) di mana 2 lajur paling kiri dijadikan lahan parkir sebuah sekolah Kristen. Tampak sekali warga masyarakat khususnya ibukota Jakarta dimanjakan dengan sarana kendaraan bermotor pribadi dan juga angkutan umum. Banyak parkir liar berarti peluang bagi kendaraan umum yang melintas merasa akan mampu mengangkut banyak calon penumpang di jam – jam tertentu. Peluang juga untuk menjadi kemacetan yang panjang di ruas jalan raya tersebut tentunya.
Namun, persepsi lain yang dimaksud berupa lahan parkir di setiap area bangunan permanen yang cenderung memberi kesan sempit untuk ruas jalan raya tertentu. Bayangkan saja, dengan halaman depan mereka yang luas, namun ruas jalan rayanya sempit sekali untuk dilalui arus lalu lintas kendaraan bermotor. Seringkali kita berkhayal seandainya diberikan perluasan oleh perusahaan atau perumahan tertentu dengan membongkar sebagian kecil halaman depan mereka, tentunya dilengkapi pula dengan keberadaan pedestrian sebagai persyaratan buat para pejalan kaki yang ideal, aku rasa peluang ketersendatan akibat beban parkir kendaraan bermotor akan ditanggulangi.
2.2. Area Parkir Tukang Ojek dan Sebangsanya
Tentu saja sebangsanya. Mengapa demikian? Karena meski bus – bus berbeda besarnya dengan sepeda motor dan bajaj berbeda kecilnya dengan sepeda motor pula, namun ketiganya memiliki kesamaan dalam soal keuangan. Mereka sama – sama mencari nafkah dengan cara yang demikian adanya. Setoran menjadi tumpuan utama mereka dalam keseharian. Kalau ojek dan bajaj tentu dengan proses tawar – menawar tarif, namun berbeda dengan bus, taksi, angkot dan lain sebagainya yang memang sudah ditarifkan sedemikian adanya yang berlaku.
Tempat mereka berteduh yang paling pas untuk dijadikan sebagai ”pangkalan ojek”, demikian kita dapat menyebutnya tentu sangat terbatas dan lain sebagainya. Di lahan sepi seperti ruas jalan raya inilah setidaknya pada foto mewakili beberapa ruas jalan lainnya yang ada di Jakarta. Memang sepi kendaraan bermotor karena banyaknya ruas jalan alternatif dan memang bukanlah jalur yang sangat sibuk untuk dilalui umumnya para penglaju yang bertugas di bagian perkantoran, perdagangan, pelajar sebagai tunas bangsa dan lain sebagainya. Namun, jika saja kelak menjadi satu – satunya atau mewakili ruas – ruas jalan alternatif yang ada, maka akan terkena dampak kemacetan. Tentu kita semua tidak ingin itu semua terjadi. Mereka dikatakan ”membandel” karena melanggar ketentuan rambu – rambu lalu lintas yang berlaku seperti larangan parkir dan berhenti baik kendaraan – kendaraan tertentu maupun semua kendaraan bermotor. Baik itu jam – jam tertentu dan di hari tertentu pula maupun setiap hari selama 24 jam.
Jawaban mereka akan menuai kontroversi. Tentu saja kalimat yang muncul tiada lain seperti ”Kalau enggak di sini... kami mau cari makan di mana lagi?! Cari tempat lain susah narik penumpangnya...!! Kami juga mikir (baca = ditunggu) anak istri di rumah!”keluh kesah mereka pastinya.
2.3. Banyaknya Armada Angkutan Umum 1 Jurusan
Sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita dengan kalimat di atas ini. Di sisi lain kita dapat diuntungkan dengan keberadaan banyaknya angkutan umum yang 1 jurusan dengan keinginan kita sehingga kita tidak tertinggal dan menunggu lama, namun dengan banyaknya armada angkutan umum yang 1 jurusan sangat membuat ruas jalan raya menjadi semakin sempit. Terutama di dalam terminal bus sekali pun. Aku sangat mengharapkan bahwa keinginan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu tidak berlebih. Memang benar demikian, pak Sutiyoso konon mengalami suatu ketika tertinggal armada bus Metro Mini di Jakarta Timur sehingga harus menunggu 1 jam lebih untuk kedatangan bus yang sama dan 1 jurusan berikutnya. Dengan penambahan armada akan menguntungkan warga masyarakat ibukota Jakarta dan sekitarnya.
Namun, bukan aku tidak setuju, sayangnya keberadaan mereka tidak diimbangi dengan beban ruas jalan raya yang dilewati mereka. Mereka saling menyerbu suatu kawasan yang dianggap sebagai pangkalan sementara, tempat di mana warga masyarakat banyak yang mencari angkutan umum mereka dan masih banyak lagi alasan. Tapi alangkah lebih baiknya lagi kalau banyaknya armada diiringi dengan situasi ruas jalan raya yang harus mereka lalui. Karena, apabila terus dibiarkan, maka setoran yang ada di dalam alam pikiran mereka yang menjadi sopir dan kondektur atau kenek akan terus menghantui diri mereka. Setoran rugi akibat sepi penumpang, maka ”jatah preman” akan tetap selalu berjalan.
2.4. Arus Kendaraan Bermotor Melawan Arus
Banyak kita jumpai yang tidak satu atau pun beberapa ruas jalan saja baik yang tergolong jalan raya sesungguhnya maupun jalan raya pemukiman atau dengan kata lain yang harus melalui komplek pemukiman perumahan penduduk. Sudah tidak dapat dibiarkan begitu saja mengingat kondisi disiplin bangsa kita yang masih sangat rendah. Hanya dengan alasan mempersingkat waktu setiap jengkal yang mampu mereka lalui akan diperbuat meski menuai amarah dari para pengemudi kendaraan bermotor yang melintas. Terlebih juga para pejalan kaki yang tentunya merasa terganggu.
Memang sih di kebanyakan negara banyak yang terparkir paralel di tiap lajur kanan bagi yang berlaju di sebelah kanan dan juga sebaliknya, namun tidak diimbangi oleh pengguna kendaraan bermotor. Di luar negeri sering aku buktikan bahwa mayoritas para warganya berjalan kaki dengan kata lain mengandalkan sarana pedestrian. Namun, pada foto di samping ini tampak sekali ruas jalan raya di Jl. Gunung Sahari yang memiliki 4 lajur untuk tiap jalur (arahnya) di mana 2 lajur paling kiri dijadikan lahan parkir sebuah sekolah Kristen. Tampak sekali warga masyarakat khususnya ibukota Jakarta dimanjakan dengan sarana kendaraan bermotor pribadi dan juga angkutan umum. Banyak parkir liar berarti peluang bagi kendaraan umum yang melintas merasa akan mampu mengangkut banyak calon penumpang di jam – jam tertentu. Peluang juga untuk menjadi kemacetan yang panjang di ruas jalan raya tersebut tentunya.
Parkir 2 Lajur.jpg
Lokasi di Jl. Gunung Sahari
Lokasi di Jl. Gunung Sahari
Aku foto dengan HP Nokia N70-ku pada tanggal 10 Febuari 2010 pukul. 13.04 WIB saat aku dari Atrium Senen usai santap siang di restoran American Hamburger dalam rangka jalan – jalan santai daripada di rumahku yang kini di Grogol saja sepanjang hari menunggu panggilan kerja setamatnya aku kuliah.
Namun, persepsi lain yang dimaksud berupa lahan parkir di setiap area bangunan permanen yang cenderung memberi kesan sempit untuk ruas jalan raya tertentu. Bayangkan saja, dengan halaman depan mereka yang luas, namun ruas jalan rayanya sempit sekali untuk dilalui arus lalu lintas kendaraan bermotor. Seringkali kita berkhayal seandainya diberikan perluasan oleh perusahaan atau perumahan tertentu dengan membongkar sebagian kecil halaman depan mereka, tentunya dilengkapi pula dengan keberadaan pedestrian sebagai persyaratan buat para pejalan kaki yang ideal, aku rasa peluang ketersendatan akibat beban parkir kendaraan bermotor akan ditanggulangi.
2.2. Area Parkir Tukang Ojek dan Sebangsanya
Tentu saja sebangsanya. Mengapa demikian? Karena meski bus – bus berbeda besarnya dengan sepeda motor dan bajaj berbeda kecilnya dengan sepeda motor pula, namun ketiganya memiliki kesamaan dalam soal keuangan. Mereka sama – sama mencari nafkah dengan cara yang demikian adanya. Setoran menjadi tumpuan utama mereka dalam keseharian. Kalau ojek dan bajaj tentu dengan proses tawar – menawar tarif, namun berbeda dengan bus, taksi, angkot dan lain sebagainya yang memang sudah ditarifkan sedemikian adanya yang berlaku.
Aku foto dengan HP Nokia N70-ku pada tanggal 10 Febuari 2010 pukul. 13.04 WIB saat aku dari Atrium Senen usai santap siang di restoran American Hamburger dalam rangka jalan – jalan santai daripada di rumahku yang kini di Grogol saja sepanjang hari menunggu panggilan kerja setamatnya aku kuliah.
Tempat mereka berteduh yang paling pas untuk dijadikan sebagai ”pangkalan ojek”, demikian kita dapat menyebutnya tentu sangat terbatas dan lain sebagainya. Di lahan sepi seperti ruas jalan raya inilah setidaknya pada foto mewakili beberapa ruas jalan lainnya yang ada di Jakarta. Memang sepi kendaraan bermotor karena banyaknya ruas jalan alternatif dan memang bukanlah jalur yang sangat sibuk untuk dilalui umumnya para penglaju yang bertugas di bagian perkantoran, perdagangan, pelajar sebagai tunas bangsa dan lain sebagainya. Namun, jika saja kelak menjadi satu – satunya atau mewakili ruas – ruas jalan alternatif yang ada, maka akan terkena dampak kemacetan. Tentu kita semua tidak ingin itu semua terjadi. Mereka dikatakan ”membandel” karena melanggar ketentuan rambu – rambu lalu lintas yang berlaku seperti larangan parkir dan berhenti baik kendaraan – kendaraan tertentu maupun semua kendaraan bermotor. Baik itu jam – jam tertentu dan di hari tertentu pula maupun setiap hari selama 24 jam.
Jawaban mereka akan menuai kontroversi. Tentu saja kalimat yang muncul tiada lain seperti ”Kalau enggak di sini... kami mau cari makan di mana lagi?! Cari tempat lain susah narik penumpangnya...!! Kami juga mikir (baca = ditunggu) anak istri di rumah!”keluh kesah mereka pastinya.
2.3. Banyaknya Armada Angkutan Umum 1 Jurusan
Sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita dengan kalimat di atas ini. Di sisi lain kita dapat diuntungkan dengan keberadaan banyaknya angkutan umum yang 1 jurusan dengan keinginan kita sehingga kita tidak tertinggal dan menunggu lama, namun dengan banyaknya armada angkutan umum yang 1 jurusan sangat membuat ruas jalan raya menjadi semakin sempit. Terutama di dalam terminal bus sekali pun. Aku sangat mengharapkan bahwa keinginan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu tidak berlebih. Memang benar demikian, pak Sutiyoso konon mengalami suatu ketika tertinggal armada bus Metro Mini di Jakarta Timur sehingga harus menunggu 1 jam lebih untuk kedatangan bus yang sama dan 1 jurusan berikutnya. Dengan penambahan armada akan menguntungkan warga masyarakat ibukota Jakarta dan sekitarnya.
Namun, bukan aku tidak setuju, sayangnya keberadaan mereka tidak diimbangi dengan beban ruas jalan raya yang dilewati mereka. Mereka saling menyerbu suatu kawasan yang dianggap sebagai pangkalan sementara, tempat di mana warga masyarakat banyak yang mencari angkutan umum mereka dan masih banyak lagi alasan. Tapi alangkah lebih baiknya lagi kalau banyaknya armada diiringi dengan situasi ruas jalan raya yang harus mereka lalui. Karena, apabila terus dibiarkan, maka setoran yang ada di dalam alam pikiran mereka yang menjadi sopir dan kondektur atau kenek akan terus menghantui diri mereka. Setoran rugi akibat sepi penumpang, maka ”jatah preman” akan tetap selalu berjalan.
2.4. Arus Kendaraan Bermotor Melawan Arus
Aku foto dengan HP Nokia N70-ku pada tanggal 7 Mei 2010 pukul. 13.52 WIB dari dalam mobil Volvo yang disetirin Ali. Siang itu aku berdua sedang dalam perjalanan menuju ke rumah ibu (eyang putri) untuk mengambil obat Tegretol 100 mg milikku yang tertinggal.
Banyak kita jumpai yang tidak satu atau pun beberapa ruas jalan saja baik yang tergolong jalan raya sesungguhnya maupun jalan raya pemukiman atau dengan kata lain yang harus melalui komplek pemukiman perumahan penduduk. Sudah tidak dapat dibiarkan begitu saja mengingat kondisi disiplin bangsa kita yang masih sangat rendah. Hanya dengan alasan mempersingkat waktu setiap jengkal yang mampu mereka lalui akan diperbuat meski menuai amarah dari para pengemudi kendaraan bermotor yang melintas. Terlebih juga para pejalan kaki yang tentunya merasa terganggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar