Senin, 05 Juli 2010

Hal. 2 > Fasilitas Umum Penyeberangan Bermasalah

1. Mewakili Fasilitas Umum Penyeberangan Yang Tidak Diperhatiin
1.1. Fasilitas Umum di Sisi Stasiun KA

Seperti tampak pada foto di bawah ini tampak sekali stasiun Tanjung Barat pada sisi timur tidak memiliki zebra cross yang layak sebagaimana diperuntukkan bagi lalu lintas penyeberang jalan bagi para pejalan kaki. Stasiun ini hanya mewakili beberapa stasiun KA dari seantero Jabodetabek yang tidak memiliki sarana penyeberangan bagi para pejalan kaki yang layak sebagaimana mestinya. Untung saja mini
m para penyeberang jalan yang hendak ke dan dari sisi timur stasiun ini. Mereka lebih banyak menyeberang di sisi barat stasiun di petak rel antara Jakarta dengan Bogor dan sebaliknya ini. Tentu memiliki fasilitas yang baik dengan kelengkapan zebra cross yang lebar memenuhi standar penyeberangan selain dari bangunan stasiun itu sendiri yang sudah tergolong modern dan rapih.

Judul foto :

Sisi Timur (foto kiri)
Minim Penyeberangan (foto kanan)


Namun, kalau kita tengok kebanyakan stasiun KA di lingkungan Jabodetabek ini masih banyak yang memprihatinkan. Sekali lagi pada foto di atas ini hanya mewakili dari banyaknya stasiun
KA yang memiliki sarana penyeberang jalan bagi para pejalan kaki yang cukup dan juga ada yang sangat memprihatinkan.

1.2. Zebra Cross Tidak Terawat
Sarana penyeberangan yang paling praktis di sepanjang jalan raya tiada lain zebra cross. Tanpa mengeluarkan biaya seperti keberadaan jembatan penyeberangan dan tanpa lampu lalu lintas pun bisa. Namun, seiring dengan banyaknya kebutuhan akan kendaraan bermotor, sarana paling praktis seperti ini sungguh terabaikan. Tidak hanya peletakkannya, namun juga seringkali di setiap lampu merah, katakanah pertigaan atau pun juga prapatan justru tidak memiliki zebra cross. Sekalinya punya, namun seringkali diserobot banyaknya kendaraan bermotor dengan alasan i
ngin cepat – cepat menancapkan gas sehingga arus kendaraan dari berlawanan arah yang lampu lalu lintasnya berwarna hijau menjadi terhalang. Seperti contohnya arus kendaraan dari utara menuju selatan seringkali terhalang oleh mereka yang terkenal lampu berwarna merah dari arah timur hendak menuju ke barat dan utara sekali pun.
Ketiganya aku foto dengan HP Nokia N70-kuFoto atas :Kondisi prapatan di Jl. Suryo Pranoto kodya Jakarta Pusat di mana zebra cross-nya terhalang separator jalan.Foto tengah :Di Jl. Pakubuwono kodya Jakarta Selatan di mana selain terhalang separator pembatas jalan 2 arah, peletakkan zebra cross tersebut justru berada di akses keluar – masuk sebuah rumah warga.Foto bawah :Berlokasi di prapatan Harmoni di mana posisiku berada di Jl. Suryo Pranoto sewaktu di dalam bus Trans Jakarta Koridor 3 yang masih melalui ruas jalan raya Jl. Tomang Ray
a

Sungguh suatu ironi bahwasannya masih ada dan banyak masyarakat kita yang buta akan kedisiplinan dalam segala hal, terlebih dalam berlalu lintas. Bagaimana bisa Indonesia terlebih ibukota Jakarta sebagai jantung Indonesia jauh dari image kekusaman etika dalam segala hal?

1.3. Minim Sekali Lampu Lalin Penyeberang Jalan
Beberapa sempet aku temukan di mana lampu - lampu lalu lintas memang berguna bagi penyeberang jalan. Namun, dibalik keberfungsian lampu - lampu lalu lintas untuk para penyeberang jalan alias para pejalan kaki itu pun banyak mengalami kendala. Sebut saja kendala - kendala tersebut antara lain :
- Arus kendaraan yang macet sudah terlanjur menutupi prapatan atau pun pertigaan sehingga buat para pejalan kaki pun ikut terhalang.
- Banyak bangunan seperti pusat perbelanjaan, pasar, sekolah dan lain sebagainya menjadi peluang para sopir angkutan umum beserta kenek masing - masing mem
angkali kendaraan mereka meski menghalangi prapatan atau pun pertigaan sekali pun.
- Tentu saja bagi yang tidak sabar ingin berlaju menerobos si prapatan atau pun pertigaan menunggu lampu lalin menyala hijau justru menerobos batas garis stop. Bisa terbayang khan segimana sulitnya para pejalan kaki berjalan menyeberangi jalan raya?

- Seperti tampak pada foto di mana pada ruas jalan raya di Jl. Medan Merdeka Barat kodya Jakarta Pusat di mana tombol pengatur lampu lalinnya tidak berfungsi. Kami para pejalan kaki harus melambaikan tangan kiri dan kanan kami agar diberi ruang gerak untuk menyeberang dari ganasnya arus kendaraan bermotor.

Aku foto diriku ini dengan HP Nokia N70 milikku di mana jelang siang itu aku baru saja santap siang di es krim Itali Rogusa di Jl. Veteran I hendak menuju halte busway Monumen Nasional sekitar pertengahan tahun 2011.

Meskipun diberi kesempatan dengan bergantian menyala warna hijaunya, namun seringkali terlihat pengendara kendaraan bermotor tidak sabar untuk terus menancapkan laju kendaraan yang mereka kemudiin itu. Terlebih para penyeberang jalan itu sendiri yang suka melanggar selagi lampun lalin mereka masih menyala merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar