Banyak orang berkata bekerja di kebanyakan orang yang berpenghasilan baik, maka kita akan 'kecipratan' rezeki yang baik pula. Namun, bukan berarti dengan mudahnya kita lakukan segala cara agar dapat mampu menjangkau kebanyakan orang tersebut mulai dengan cara yang halal hingga yang haram sekali pun. Pelarangan itu setidaknya berasal dari dalam lingkungan keluarga kita sendiri. Sebagaimana pendidikan, pengarahan, pengasuhan dan pengenalan yang kita dapati dari mereka agar kita sendiri dapat terarah ke suatu hal yang lebih baik.
Banyak dilakukan segala cara membuat kita banyak terarah kepada segala perbuatan yang dinilai oleh banyak orang hingga menimbulkan segala pro dan kontra. Mengenali lebih dekat bagaimana gempitanya ibukota Jakarta dan di balik itu semua juga terdapat kendala - kendala yang sulit kita bicarakan lebih banyak dalam situs blogger ini tentunya. Namun, haruslah dicermati apapun yang kita peroleh dan jalani tidaklah mudah seperti halnya kita menonton suatu tayangan film baik itu tayangan fiksi maupun yang benar - benar nyata dapat dan akan kita alami.
Jakarta punya segudang cerita, begitulah kata - kata yang seringkali dapat kita dengar dari ucapan banyak orang. Jakarta memberi daya tarik. Padahal yang kita jumpai bukanlah segelintir umat manusia Pribumi yang kita kenal sebagai penduduk asli bersuku Betawi lagi. Jakarta sudah tercampur baur oleh banyaknya pendatang. 1 orang yang melakukan tindakan kesalahan, maka segelintir orang akan terkena dampaknya. Bahkan kasus seperti ini pun dapat bergulir tidak lagi dalam kawasan sekitar kita saja melainkan menjalar kepada lokal, nasional dan kalau perlu internasional.
1 orang saja mampu berkata yang memancing banyak orang sehingga memicu perkara yang tak pasti. Ketidak tuntasan si perkara akan menuai pro dan kontra sebagaimana perkara tersebut harus ditindak lanjuti. Padahal si penyimak itu sendiri belum tentu mampu melakukan yang tidak akan diperbuat oleh dirinya.
Seperti salah satu contohnya aku sendiri bisa saja sangat kesal oleh perilaku tidak menyenangkan salah seorang pengemudi mobil yang dengan seenaknya berhenti melebihi garis stop di sebuah pertigaan. Namun, apakah di kemudian waktu aku tidak akan memberhentikan laju mobil yang aku kendarai itu di garis stop? Tentu saja mungkin sekarang aku bisa membentak habis - habisan si pengemudi tersebut. Tetapi... kemudian waktu kalau saja aku kedapatan kejadian yang bisa persis dialami oleh si pengemudi tersebut bisa saja aku melanggarnya.
Kasus di atas ini hanya sebagian kecil saja yang kalau kita pribadi dibuatnya sangat kesal, tapi justru di kemudian waktu itu justru aku yang menyulut api amarah bagi orang lain.
Adapun di kebanyakan kasusnya di Jakarta dan sekitarnya seringkali aku temuin seperti :
Aku urutkan secara 10 besar.......
1. Para calon penumpang kendaraan umum tidak sabaran keluar - masuk angkutan umum.
2. Acuh terhadap orang sekitar yang lebih membutuhkan. Sebut saja itu orang cacat, wanita hamil, orang tua yang membawa anak - anak kecil dan lain sebagainya.
3. Kesempatan longgar berlaju di jalan raya terapit laju kendaraan bermotor yang terjebak macet.
4. Jalur bus Trans Jakarta digunain kendaraan umum lainnya.
5. Menaiki atap rangkaian KA, terlebih angkutan umum lainnya meski jarang ditemuin.
6. Mermaksakan diri menjadikan lahan sempit jadi pangkalan angkutan umum / lahan ngetem.
7. Banyak infrastruktur aspal bergelombang yang tidak diperbaiki seutuhnya melainkan sekedar tambal sulam.
8. Musim hujan, maka banjir akan jadi fenomena selalu tanpa solusi pemecahan jitu.
9. Pemukiman kumuh merajalela terlebih di pinggir rel KA dan kali. Kasus orang tertabrak KA dan hanyut terseret arus kali jadi fenomena biasa - biasa saja.
10. Ketidak tertiban masyarakat dalam mengantri apapun. Sebut saja itu karcis KA dengan alasan klasik, yaitu takut ketinggalan KA meski waktunya masih lama sekali. Belum lagi mengantri keluar dari parkiran sebuah pusat perbelanjaan sekalipun dengan kondisi gerbang keluarnya sedikit.
Banyak dilakukan segala cara membuat kita banyak terarah kepada segala perbuatan yang dinilai oleh banyak orang hingga menimbulkan segala pro dan kontra. Mengenali lebih dekat bagaimana gempitanya ibukota Jakarta dan di balik itu semua juga terdapat kendala - kendala yang sulit kita bicarakan lebih banyak dalam situs blogger ini tentunya. Namun, haruslah dicermati apapun yang kita peroleh dan jalani tidaklah mudah seperti halnya kita menonton suatu tayangan film baik itu tayangan fiksi maupun yang benar - benar nyata dapat dan akan kita alami.
Jakarta punya segudang cerita, begitulah kata - kata yang seringkali dapat kita dengar dari ucapan banyak orang. Jakarta memberi daya tarik. Padahal yang kita jumpai bukanlah segelintir umat manusia Pribumi yang kita kenal sebagai penduduk asli bersuku Betawi lagi. Jakarta sudah tercampur baur oleh banyaknya pendatang. 1 orang yang melakukan tindakan kesalahan, maka segelintir orang akan terkena dampaknya. Bahkan kasus seperti ini pun dapat bergulir tidak lagi dalam kawasan sekitar kita saja melainkan menjalar kepada lokal, nasional dan kalau perlu internasional.
1 orang saja mampu berkata yang memancing banyak orang sehingga memicu perkara yang tak pasti. Ketidak tuntasan si perkara akan menuai pro dan kontra sebagaimana perkara tersebut harus ditindak lanjuti. Padahal si penyimak itu sendiri belum tentu mampu melakukan yang tidak akan diperbuat oleh dirinya.
Seperti salah satu contohnya aku sendiri bisa saja sangat kesal oleh perilaku tidak menyenangkan salah seorang pengemudi mobil yang dengan seenaknya berhenti melebihi garis stop di sebuah pertigaan. Namun, apakah di kemudian waktu aku tidak akan memberhentikan laju mobil yang aku kendarai itu di garis stop? Tentu saja mungkin sekarang aku bisa membentak habis - habisan si pengemudi tersebut. Tetapi... kemudian waktu kalau saja aku kedapatan kejadian yang bisa persis dialami oleh si pengemudi tersebut bisa saja aku melanggarnya.
Kasus di atas ini hanya sebagian kecil saja yang kalau kita pribadi dibuatnya sangat kesal, tapi justru di kemudian waktu itu justru aku yang menyulut api amarah bagi orang lain.
Adapun di kebanyakan kasusnya di Jakarta dan sekitarnya seringkali aku temuin seperti :
Aku urutkan secara 10 besar.......
1. Para calon penumpang kendaraan umum tidak sabaran keluar - masuk angkutan umum.
2. Acuh terhadap orang sekitar yang lebih membutuhkan. Sebut saja itu orang cacat, wanita hamil, orang tua yang membawa anak - anak kecil dan lain sebagainya.
3. Kesempatan longgar berlaju di jalan raya terapit laju kendaraan bermotor yang terjebak macet.
4. Jalur bus Trans Jakarta digunain kendaraan umum lainnya.
5. Menaiki atap rangkaian KA, terlebih angkutan umum lainnya meski jarang ditemuin.
6. Mermaksakan diri menjadikan lahan sempit jadi pangkalan angkutan umum / lahan ngetem.
7. Banyak infrastruktur aspal bergelombang yang tidak diperbaiki seutuhnya melainkan sekedar tambal sulam.
8. Musim hujan, maka banjir akan jadi fenomena selalu tanpa solusi pemecahan jitu.
9. Pemukiman kumuh merajalela terlebih di pinggir rel KA dan kali. Kasus orang tertabrak KA dan hanyut terseret arus kali jadi fenomena biasa - biasa saja.
10. Ketidak tertiban masyarakat dalam mengantri apapun. Sebut saja itu karcis KA dengan alasan klasik, yaitu takut ketinggalan KA meski waktunya masih lama sekali. Belum lagi mengantri keluar dari parkiran sebuah pusat perbelanjaan sekalipun dengan kondisi gerbang keluarnya sedikit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar